Sistem Pengapian CDI: Pengertian, Kelebihan, Kekurangan, Komponen dan Cara Kerja

  • Whatsapp
sistem pengapian cdi

Apa itu Sistem Pengapian CDI? Berikut ini adalah penjelasan lengkap tentang pengertian Sistem Pengapian CDI, kelebihan, kekurangan, komponen dan cara kerjanya.

Salah satu komponen vital yang ada pada motor adalah sistem pengapian. Kegunaan utama dari komponen ini adalah untuk memancarkan percikan api dari busi yang akan digunakan untuk membakar bahan bakar yang sebelum nya dipadatkan oleh piston.

Pada penggunaanya sistem pengapian CDI ini bisa digunakan baik pada motor maupun mobil. Namun penggunaan pada motor lebih banyak digunakan. Ada beberapa kekurangan yang menyebabkan CDI tidak digunakan pada mesin mobil. Sementara itu cara kerja pengapian CDI ini memiliki ciri khusus. Salah satunya adalah penggunaan kapasitor.

Pengertian Sistem Pengapian CDI

diagram prinsip kerja sistem pengapian cdi
Diagram Prinsip Kerja Sistem Pengapian CDI

Dalam perkembangan teknologi otomotif, sistem pengapian elektronik adalah penyempurnaan daripada sistem pengapian konvensional.

Salah satu jenis sistem pengapian elektronik yang paling populer adalah sistem pengapian CDI (Capasitor Dishcharge Ignition).

Sistem pengapian CDI adalah sistem pengapian elektronik yang bekerja dengan memanfaatkan pengisian (charge) dan pengosongan (discharge) muatan kapasitor.

Dalam Sistem Pengapian CDI terdapat saklar elektronik yang akan mengatur proses pengisian dan pengosongan muatan kapasitor.

Saklar elektronik ini merupakan pengganti dari kontak platina pada sistem pengapian konvensional.

Saklar elektronik dalam sistem pengapian CDI menggunakan komponen bernama SCR (Silicon Controlled Rectifier) atau Thyristor Switch.

Kelebihan dan Kekurangan Sistem Pengapian CDI

Salah satu perbedaan mendasar antara pengapian konvensional dengan pengapian CDI adalah pada bagaimana memutus arus primer untuk membangkitkan tegangan pada ignition coil. Bila pada pengapian konvensional, platina (mekanis) mengandalkan cam lobe pada poros distributor untuk menentukan buka tutupnya. Sedangkan pada pengapian CDI menggunakan saklar elektronik yang mengandalkan sinyal-sinyal elektrik.

Untuk itu sistem pengapian CDI memiliki beberapa kelebihan dan kekurangan sebagai berikut :

1. Kelebihan Sistem Pengapian CDI

  • Tidak adanya gerakan mekanik/gesekan antar komponen pada SCR, sehingga tidak terjadi keausan komponen.
  • Tidak memerlukan perawatan/penyetelan dalam jangka waktu yang pendek seperti pada sistem pengapian konvensional.
  • Kerja sistem pengapian CDI stabil (karena tidak ada keausan komponen) sehingga bahan bakar relatif ekonomis karena pembakaran lebih sempurna.
  • Tegangan pengapian lebih besar dan stabil sehingga pembakaran lebih sempurna.
  • Busi menjadi lebih awet karena pembakaran lebih sempurna.

2. Kekurangan Sistem Pengapian

  • Apabila terjadi kerusakan pada salah satu komponen dalam unit CDI maka harus diganti satu unit.
  • Biaya penggantian unit CDI relatif lebih mahal.

Komponen Sistem Pengapian CDI

Dalam penggunaan nya, sebuah CDI akan terdiri dari beberapa komponen yang penting. Komponen – komponen tersebut adalah :

1. Baterai

Ini merupakan komponen yang fungsi nya memberikan arus awal untuk mengisi kapasitor. Komponen ini menjadi penting pada motor injeksi. Karena fungsi lain nya yaitu untuk menggerakan ECU.

2. Spul dan Rotor Magnet

Pada sebagian motor, sumber listrik untuk CDI tidak didapat dari beterai. Melainkan dari spul dan rotor magnet ini. Kedua nya merupakan komponen yang berbeda namun memiliki fungsi yang sama yaitu merubah putaran mekanis pada poros engkol mesin menjadi listrik AC. Listrik ini yang akan menjadi sumber tenaga.

Spul meruapakan bagian yang berbentuk lilitan statis yang ada dalam rotor magnet. Sementara rotor magnet sendiri merupakan bagian yang berbentuk tromol yang terhubung dengan poros engkol pada mesin. Rotor ini memiliki magnet permaen yang ketika poros mesin hidup arus akan mengalir lewat spul.

3. CDI Unit

Di dalam CDI unit ini terdiri dari beberapa part yang saling terintegrasi. Beberapa part tersebut seperti dioda, resistor, dan yang terpenting adalah kapasitor. Sesuai fungsi nya kapasitor akan menyimpan arus dan mengalirkan nya ke komponen yang lain.

Selain itu di dalam CDI juga terdapat komponen bernama SCR yang fungsi nya adalah mengatur aliran arus pada kapasitor. Alat ini akan mengatur kapan kapasitor bekerja atau tidak sesuai dengan trigger yang dikirim igniter.

4. Voltage Converter

Alat ini berfungsi mirip dengan trafo step up. Yaitu untuk menaikan tegangan dari baterai untuk mengisi kapasitor. Alat ini akan menaikan tegangan dari 12 volt menjadii 300 volt.

5. Pick up Coil

Sebagian menyebut juga bagian ini dengan nama pulse igniter. Fungsi dari bagian ini adalah mengirim signal PWM yang akan menandakan waktu pengapian. Signal ini juga yang akan menentukan kapan kapasitor bekerja dan tidak.

5. Ignition Coil

Mirip dengan voltage converter. Bagian ini juga sama – sama berfungsi untuk menaikan tegangan. Namun kedua alat ini memiliki peruntukan yang berbeda. Ignition coil akan merubah tegangan dari 12 volt menjadi 20 KV. Fungsi nya adalah untuk menciptakan percikan api pada busi.

6. Fuse

Bagian ini merupakan komponen yang tidak bisa dilewatkan pada semua rangkaian listrik. Fungsi utama dari komponen ini adalah sebagai pengaman dari terjadi nya kelistrikan. Pada CDI, fuse akan langsung memotong aliran listrik ketika terjadi hubungan pendek arus listrik.

Cara kerja komponen ini adalah dengan memutuskan kawat tipis yang ada di dalam nya. Kawat tersebut akan putus dengan otomatis ketika arus listrik yang melewati melebihi batas yang ada.

7. Busi

Fungsi busi adalah untuk memercikan bunga api di dalam ruang bakar. Hal ini terjadi karena adanya celah sempit antara elektroda dan masa. Ketika elektroda dialiri listrik dengan tegangan tinggi maka akan timbul percikan akibat arus pada elektroda yang bergerak mendekati masa.

Cara kerja ini memanfaatkan muatan positif pada elektroda yang akan mendekat ke muatan negatif yang ada pada masa. Loncatan elektron yang terjadi bisa memercikan api karena di trigger dengan tegangan tinggi pada elektroda.

Baca juga : Fungsi dan Cara Kerja Kondensator Sistem Pengapian

Cara Kerja Sistem Pengapian CDI

Sistem Pengapian CDI
Sistem Pengapian CDI

Secara sederhana cara kerja pengapian CDI merupakan sebuah cara pengapian pada mesin yang menggunakan bensin dengan memanfaatkan penyimpanan arus dengan tegangan tinggi yang selanjutnya akan melakukan induksi pada koil. Komponen utama dari sistem pengapian ini adalah kapasitor, yang akan berfungsi sebagai penyimpan arus sebelum dilepaskan ke koil.

CDI sendiri memiliki dua sistem kerja. Yaitu CDI dengan sistem AC dan DC. Perbedaan keduanya adalah

  • CDI sistem AC bekerja menggunakan tegangan utama yang sumber nya dari spul atau alternator. Alternator akan menghasilkan arus AC yang kemudian digunakan untuk pengapian CDI. Ciri khas dari CDI jenis ini adalah digunakan nya dioda sebelum arus masuk ke kapasitor. Fungsi dari dioda sendiri adalah untuk mengubah arus dari AC ke DC
  • CDI sistem DC bekerja dengan menggunakan tegangan utama yang berasal dari kiprok. Arus yang berasal dari kiprok merupakan arus DC sehingga bisa langsung bekerja.

Namun secara umum cara kerja pengapian CDI ini sama saja. Berikut adalah tahapan dari cara kerja pengapian CDI

  • Saat kunci kontak berada pada posisi ON maka akan muncul aliran arus dari baterai ke CDI unit. Sebelum masuk ke CDI unit arus baterai ini akan melewati converter dengan tujuan untuk menaikan tegangan nya sampai 300 volt
  • Pada fase ini, mesin masih dalam kondisi mati. Hal ini karena pick up coil belum mengirimkan signal PWM. Signal ini merupakan perintah untuk melakukan discharge. Dalam fase ini, arus dari sumber masih ada di dalam kapasitor
  • Hal yang berbeda akan terjadi dengan CDI dengan sistem AC. Pada sistem ini, di mana arus sumber berasal dari spul. Spul tidak akan menghasilkan arus sampai mesin hidup.
  • Ketika mesin mulai berputar maka pick up coil akan mengirim signal PWM ke SCR
  • Ketika sudah mendapatkan trigger inilah, SCR akan mengalihkan arus yang ada di kapasitor. Arus rangkaian yang mula nya dari baterai akan terputus dan ganti nya rangkaian dari kapasitor yang akan terhubung dengan ignition coil
  • Saat kapasitor terhubung dengan ignition coil inilah arus yang ada akan menghasilkan tegangan yang mengalir dengan cepat ke lilitan primer pada ignition koil. Proses ini akan menimbulkan magnet pada lilitan primer. Karena tegangan yang ada mencapai 300 volt maka magnetan yang dihasilkan pun cukup besar.
  • Munculnya magnet pada lilitan primer akan menginduksi lilitan sekunder. Proses ini akan menghasilkan output tegangan yang lebih besar lagi. Output ini lah yang nanti nya akan dikirim ke busi untuk menimbulkan percikan.
  • Ketika SCR kehilangan trigger maka baterai akan kembali terhubung untuk mengisi kapasitor. Proses ini akan terjadi terus menerus dengan cepat.

Itulah beberapa hal yang bisa Anda ketahui tentang cara kerja pengapian CDI. Meskipun bisa digunakan pada motor dan mobil namun demikian secara umum penggunaan pada motor akan lebih sering ditemukan.

Karena menggunakan rangkaian listrik maka salah satu hal yang harus diperhatikan dalam penggunaan CDI ini adalah masalah usia pakai komponen. Banyak kasus di mana mesin mati karena komponen di dalam CDI terbakar.

Baca juga : 5 Penyebab Motor Tidak Ada Pengapian

Pos terkait