SISTEM PENGISIAN MOBIL : Fungsi, Komponen dan Cara Kerja

Sistem Pengisian Mobil : Fungsi, Komponen dan Cara Kerja - Dalam kendaraan baik itu motor, mobil, mini bus, bus sampai truck pasti terdapat komponen bernama aki/baterai. Baterai dalam kendaraan bermotor berfungsi sebagai sumber energi bagi motor starter dalam menghidupkan mesin. 

Motor starter dalam memutar fly wheel (pada mobil) membutuhkan energi lumayan besar. Jika baterai tidak dilakukan pengisian, tentu energi pada baterai akan cepat habis, istilah kerennya "aki tekor". Ketika aki tekor tentu saja tidak mampu untuk menstarter mobil. 

Inilah salah satu peran dari sistem pengisian (charging system) yaitu untuk mengisi aki agar selalu siap untuk memenuhi energi yang dibutuhkan sistem starter.

Selain untuk mengisi aki/baterai, selama mesin hidup segala komponen kelistrikan seperti sistem pengapian, lampu-lampu, aksesoris (tv, radio dll) disuply menggunakan energi listrik yang dihasilkan oleh sistem pengisian ini. Tahu lahh, jika lampu pada kendaraan juga membutuhkan energi listrik untuk hidup, siapa lagi kalau bukan sistem pengisian yang mensuplynya.

Sistem Pengisian (Charging System)
Sistem Pengisian (Charging System)

Lalu mengapa radio/lampu bisa hidup ketika mesin mati? Yaa, ketika mesin mati sistem pengisian memang tidak bekerja. Namun bukan berarti tidak terdapat sumber energi/listrik. Ketika mesin mati, baterai/akilah yang bekerja sebagai sumber listrik. Coba saja lepas baterai, bisa hidup kagak tuh radio.

Dan coba saja copot baterai saat mesin hidup, masih hidup kagak tuh mesin dan segala komponen kelistrikannya. Jika ketika mesin hidup, aki dicopot ternyata mesin masih hidup berarti sistem pengisian bekerja.

Okee lah, itu sedikit pengantar saja tentang sistem pengisian (charging system). Selanjutnya akan kita bahas mengenai fungsi sistem pengisian, komponen sistem pengisian dan cara kerja sistem pengisian.

Fungsi Sistem Pengisian (Charging System)

Fungsi utama sistem pengisian (charging system) pada mobil adalah untuk mengisi kembali baterai dan mensuplay arus listrik ke seluruh sistem kelistrikan setelah/selama mesin hidup. 
Jadi fungsi sistem pengisian ini ada dua, yang pertama adalah untuk mengisi kembali baterai (aki), sehingga aki selalu dalam kondisi penuh dan siap untuk melakukan starter mobil yang membutuhkan daya besar.

Fungsi kedua dari sistem pengisian adalah untuk mensuplay arus listrik ke seluruh sistem kelistrikan selama mesin hidup, dengan kata lain sistem pengapian, tape, radio, lampu dan lain-lain tidak di suplay oleh aki melainkan oleh sistem pengisian. Sehingga ketika mesin hidup dan sistem pengisian normal, kemudian aki dilepas maka "mesin masih hidup".

Salah satu tanda bahwa sistem pengisian bekerja normal adalah, lampu bertanda "baterai" tidak hidup saat mesin hidup. Lampu ini disebut dengan lampu CHG (Charging Lamp). Selain lampu CHG masih terdapat komponen utama dari sistem pengisian lhoo, apa sajakah itu?

Komponen Sistem Pengisian

Sistem pengisian (charging system) terdiri dari beberapa komponen utama seperti, yaitu baterai, alternator, regulator, kunci kontak, sekering dan kabel penghubung. Berikut adalah fungsi masing-masing komponen dalam sistem pengisian mobil :

1. Baterai
Fungsi baterai dalam sistem pengisian adalah untuk memberikan energi listrik pada sistem pengisian guna menghasilkan medan magnet pada rotor coil di dalam alternator sebelum mesin hidup (kunci kontak on).

Sehingga salah satu pengecekan sistem pengisian yang abnormal adalah dengan memeriksa kemagnetan pada alternator ketika mesin belum hidup kunci kontak on. Ketika tidak ada kemagnetan, maka dapat dipastikan sumber masalah utama berada di jalur kunci kontak menuju ke-rotor coil.

2. Sekering
Fungsi sekering pada sistem pengisian adalah sebagai pengaman ketika besar arus berlebihan atau ketika terjadi konsleting (hubung singkat).

3. Alternator
Fungsi alternator pada sistem pengisian adalah untuk mengubah energi mekanik (puter) menjadi energi listrik untuk mengisi baterai dan memenuhi kebutuhan semua sistem kelistrikan selama mesin hidup.

Alternator digerakkan oleh tenaga mesin yang disalurkan ke puli melalui strange (belt), putaran ini akan tersambung dengan kumparan rotor yang berputar dan menghasilkan medan magnet. Kumparan rotor dapat menghasilkan medan magnet karena mendapat supply arus yang melewati sikat dan slip ring
Bagian-bagian Alternator
Bagian-bagian Alternator

Bagian-bagian Alternator antara lain sebagai berikut :
  • Fan
  • Pulley
  • Stator coil
  • Rotor coil
  • Rectifier
  • Slip ring
  • Ball bearing
  • Brush
Ada kumparan rotor (yang berputar) maka ada kumpara stator (yang diam), fungsinya adalah untuk membangkitkan tegangan bolak-balik (AC). Tegangan bolak balik (AC) ini kemudian di searahkan oleh dioda penyearah (rectifier) sehingga menjadi arus searah yang akan disalurkan ke seluruh sistem kelistrikan dan mengisi baterai.

Pada alternator juga terdapat kipas untuk mendinginkan komponen-komponen alternator. Selain itu ada juga bantalan/bearing yang berfungsi untuk mengurangi gesekan antara poros rotor dengan rumah depan dan rumah belakang alternator.

4. Regulator
Fungsi regulator pada sistem pengisian adalah untuk mengatur besar kecilnya arus yang masuk ke kumparan roto (rotor coil), dengan kata lain berfungsi untuk mengatur kuat lemahnya kemagnetan yang dihasilkan pada rotor coil. Tujuannya adalah agar di dapat tegangan output yang stabil yaitu antara 13,8 V sampai 14,8 v.

Mengapa perlu di atur? Rotor berputar tergantung putaran mesin, semakin tinggi putaran mesin maka akan semakin cepat pula putaran rotor. Jika tidak di atur, pada putaran tinggi tegangan yang dihasilkan juga cukup tinggi. Tentu tegangan yang tinggi ini tidak baik untuk sistem kelistrikan mobil yang umumnya didesain untuk tegangan 12 V.

Terdapat dua macam regulator yang sering digunakan pada sistem pengisian mobil yaitu regulator tipe konvensional dan IC regulator.
Macam-macam Regulator
Macam-macam Regulator

Regulator yang konvensional terdiri dari dua kumparan yaitu, voltage regulator dan voltage relay. Fungsi voltage regulator untuk mengatur arus yang masuk ke rotor coil (mengatur kemagnetan). Sedangkan voltage relay berfungsi untuk mematikan lampu CHG dan menghubungkan arus dari terminal B ke voltage Regulator. Dalam regulator ini terdapat enam terminal yaitu terminal IG, N, F, E, L, dan B.

5. Kunci Kontak
Fungsi kunci kontak dalam sistem pengisian adalah untuk memutushubungkan arus dari baterai ke regulator pada saat mesin belum hidup (kunci On > lampu CHG hidup).

6. Kabel Penghubung
Fungsi kabel penghubung adalah untuk menghantarkan arus listrik dari satu komponen ke komponen yang lain.

Cara Kerja Sistem Pengisian Konvensional

Sistem pengisian dapat bekerja menghasilkan tegangan jika tiga syarat ini terpenuhi yaitu, (1) adanya medang magnet pada roto, (2) adanya kumparan (stator koil) dan (3) adanya gerak pemotongan medan magnet.

Untuk memahami cara kerja sistem pengisian konvensional dapat memperhatikan diagarm di bawah ini. Pada diagram ini terdapat dua bagian besar yaitu alternator (sisi kiri) dan regulator (sisi kanan). Sementara itu ada komponen lain di sisi paling kanan yaitu baterai, CHG, dan load yang merupakan beban (semua sistem kelistrikan pada mobil yang di suplay sistem pengisian).

Rangkaian Sistem Pengisian
Rangkaian Sistem Pengisian

Sebelum memahami cara kerja, pahami dulu terminal-terminal pada alternator dan regulator. Pada alternator terdapat 4 terminal yaitu N, B, F, dan E. Sementara pada regulator terdapat 6 terminal yaitu L, Ig, N, B, F, dan E.

Pahami juga komponen utama dari alternator yaitu stator coil, rotor coil yang berputar dan diode yang berfungsi menyearahkan arus AC menjadi DC. Sementara pada regulator terdapat voltage relay dan voltage regulator yang fungsinya sudah kami singgung di atas. Jika sudah memahami komponen-komponen alternator, selanjutnya dapat memahami cara kerja charging system ini.

Cara kerja sistem pengisian konvensional ini terbagi menjadi empat (3) bagian yaitu pada saat kunci kontak ON mesin belum hidup, pada saat mesin hidup putaran lambat ke putaran sedang dan pada putaran tinggi.

1. Cara Kerja Sistem Pengisian Pada Saat Kunci Kontak On - Mesin Belum Hidup

Cara kerja sistem pengisian pada saat kunci kontak ON mesin mati
Cara kerja sistem pengisian pada saat kunci kontak ON mesin mati

Ketika pengemudi memutar kunci kontak ke-On maka ada dua aliran arus yang bersumber dari baterai, yaitu :
a. Arus dari baterai mengalir ke Fusible Link > Igntion Switch > Fuse > Charging lamp > Terminal L regulator > Terminal P0 dalam regulator > Terminal P1 dalam regulator > Terminal E regulator > Massa. Pada gambar di atas ditunjukan dengan garis warna merah.

Karena lampu pengisian di aliri arus maka lampu ini akan menyala, letak lampu ini adalah pada bagian panel/dashbor. Lampu ini bergambar baterai, dan setiap mobil pasti ada lampu indikator pengisian ini.

Baca juga : Lampu bertanda baterai menyala terus? Ini sebanya

So, kalian bisa mencobanya langsung dengan cara meng-On kan kunci kontak kemudian lihat ada tidak lampu indikator pengisian ini.

b. Arus dari baterai mengalir ke Fusible link > Ignition Switch > Fuse > Terminal IG regulator > PL1 dalam regulator > Terminal PL0 dalam regulator > Terminal F regulator > Terminal F alternator > Slipr ring > Rotor alternator > Slip ring > Terminal E alternator > massa  Pada gambar di atas ditunjukan dengan garis warna biru.

Karena kumparan rotor dialiri arus listrik, maka akan terjadi kemagnetan. Sehingga untuk selanjutnya, arus yang mengalir ini disebut dengan arus medan (field current).

2. Cara Kerja Sistem Pengisian Konvensional pada Putaran Rendah

Cara Kerja Sistem Pengisian pada Saat Putaran Rendah
Cara Kerja Sistem Pengisian pada Saat Putaran Rendah
Setelah mesin hidup maka rotor akan berputar sejalan dengan putaran mesin, tegangan/voltase dibangkitkan dalam stator koil, dan tegangan netral (yang tidak melalui diode) akan mengalir ke voltage relay yang membuat lampu indikator pengisian mati.

Pada saat yang sama, tegangan juga dihasilkan melalui stator koil dan disearahkan oleh diode, hal tersebut akan mengalir ke voltage regulator sehingga menarik PL2. Sehingga arus yang ke rotor koil akan dibataso oleh adanya Resistor. Inilah gunanya regulator yaitu mengatur besar kecilnya arus yang ke rotor, sehingga tegangan yang dihasilkan oleh kumparan stator dapat terkendali. Tegangan yang telah di searahkan oleh diode akan mengalir ke baterai dan melakukan pengisian.

Untuk lebih jelasnya berikut adalah penjelasan masing-masing aliran arus yang terjadi dalam sistem pengisian pada saat mesin hidup putaran rendah :

a. Tegangan Netral
Dari stator koil dibangkitkan tegangan netral, tegangan ini kemudian mengalir ke Terminal N alternator > terminal N regulator > magnet coil dari voltage relay > terminal E regulator > massa.

Karena pada voltage relay terjadi medan magnet, maka terminal P0 akan tertarik dari P1. Sehingga akan berhubungan dengan P2. Karena arus yang mengalir ke lampu pengisian tidak mendapat massa (arus tidak mengalir) maka lampu pengisian mati.

Maka dari itu ketika mesin hidup lampu pengisian akan mati jika sistem pengisian bekerja normal. Jika lampu pengisian tidak mati pada saat mesin hidup, maka kemungkinan terjadi trouble pada sistem pengisian bisa pada alternatornya bisa juga pada regulatornya.

b. Tegangan yang keluar (output voltage)
Tegangan yang telah disearahkan oleh diode menjadi arus DC akan mengalir dari terminal B alternator > terminal B regulator > titik kontak P2 > titik kontak P0 > magnet coil dari voltage regulator > terminal E regulator > massa bodi.

Akibatnya pada voltage regulator akan terjadi kemagnetan yang dapat mempengaruhi posisi dari titik kontak (Point) Pl0.

Dalam hal ini PL0 akan tertarik dari PL1 sehingga pada kecepatan sedang PL0 akan mengambang (seperti terlihat dalam gambar di atas).

c. Arus yang ke Field (Field Current)
Arus yang dihasilkan oleh alternator, dari terminal B alternator > Ignition switch > Fuse > Terminal IG Regulator > Point PL1 > Point PL0 > Resistor R > Terminal F Regulator > Terminal F alternator > Rotor coil > Rotor coil > Terminal E alternator > massa bodi.

Sehingga hal ini jumlah arus/tegangan yang masuk ke rotor coil bisa melalui dua saluran.

- Jika medan magnet di voltage regulator besar dan mampu menarik PL0 dan PL1, maka arus yang ke rotor coil akan melalui resistor R. Akibatnya arus akan kecil dan kemagnetan yang ditimbulkan rotor coil-pun kecil (berkurang).

- Sedangkan kalau kemagnetan pada voltage regulator lemah dan PL0 tidak tertarik dari PL1 maka arus yang ke rotor coil akan tetap melalui point PL1 > POINT PL0. Akibatnya arus tidak melalui resistor dan arus yang masuk ke rotor coil akan normal kembali.

d. Out Put Current
Terminal B alternator > baterai dan beban > massa.

3. Cara Kerja Sistem Pengisian Konvensional Saat Putaran Tinggi

Cara Kerja Sistem Pengisian Konvensional Saat Putaran Tinggi
Pada saat putaran tinggi rotor berputar sangat cepat, tegangan yang dihasilkan pada kumparan stator akan semakin tinggi. Maka, tegangan yang mengalir dari terminal B alternator > terminal B regulator ke voltage regulator juga tinggi, kemagnetan yang dihasilkan akan semakin kuat sehingga mampu menarik P0 ke P1. Pada saat ini arus medan (field current) yang ke rotor coil akan mengalir terputus-putus (intermittenly). Dengan kata lain, gerakan titik kontak PL0 dari voltage regulator kadang-kadang membuat hubungan dengan titik kontak PL2.

Bagaimana arus ke rotor bisa mengalir terputus-putus pada sistem pengisian saat putaran tinggi?

Ktika titik kontak PL0 pada regulator berhubungan dengan titik kontak PL2, field current akan dibatasi. Karena apa? Karena arus tidak mengalir melalui rotor coil, arus dari terminal IG regulator melewati R langsung ke massa. Arus akan lebih memilih ke massa langsung, walaupun rotor koil tetap dialiri arus walaupun sangat kecil.

Namun begitu rotor coil tidak dialiri arus, maka tegangan yang dihasilkan akan turun. Kemagnetan pada voltage regulator juga akan turun sehingga mengembalikan posisi PL2 mengambang. Pada saat mengambang, rotor koil kembali mendapatkan arus medan (field current). Itulah mengapa filed current yang ke rotor koil mengalir secara terputus-putus.

Aliran arus pada saat putaran tinggi adalah sebagai berikut :

a. Voltage neutral (tegangan netral)
Terminal N alternator > terminal N regulator > magnet coil dari voltage relay > terminal E regulator > massa (bodi).

Arus ini juga sering disebut neutral voltage.

b. Output Voltage
Terminal B alternator > terminal B regulator > point P2 > point P0 > magnet coild dari N regulator > terminal E regulator.

Inilah yang disebut dengan Output voltage.

c. Tidak ada arus ke Field Current
Terminal B alternator > IG switch > fuse > terminal IG regulator > resistor R > terminal F regulator > terminal F alternator > rotor coil > atau > point PL0 > point P2 > ground (No. F.C) > terminal E alternator > massa (F current).

Bila arus resistor R > mengalir terminal  regulator > rotor coil > massa, akibatnya arus yang ke rotor ada, tapi kalau PL0 nempel PL2 maka arus mengalir ke massa sehingga yang ke rotor coil tidak ada.

d. Output Current
Terminal B alternator > baterai/load > massa.

Gimana sudah paham belum tentang SISTEM PENGISIAN MOBIL? Jika belum tanyakan melalui komentar yaa.

Belum ada Komentar untuk "SISTEM PENGISIAN MOBIL : Fungsi, Komponen dan Cara Kerja"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel